Tabel 4. Beberapa Bakeri yang Biasa Digunakan sebagai Inokulan
| organisme | Tipe organisme | Alasan Penggunaan | Produk akhir utama |
| Lactobacillus plantarum | BAL, homolaktik |
|
Asam laktat |
| Pediocococcus acidilactici, Pediocococcus cerevisiae | BAL, homolaktik |
|
Asam laktat |
| Enterococcus faecium | BAL, homolaktik |
|
Asam laktat |
| Propionibacterium shermanii, Propionibacterium jensenii | Propionibakteri |
|
Asam propionat asam asetat CO2 |
| Lactobacillus buchneri | BAL, HETEROLAKTIK |
|
Asam laktat, asam asetat, propanediol CO2 |
Sumber: Kung (2001)
Populasi bakteri dalam inokulan harus dalam jumlah yang cukup untuk proses fermentasi yang efektif. Bakteri Lactobaillus plantarum dianjurkan mempunyai konsentrasi akhir sebesar 100.000 (105) colony forming unit (CFU) per gram hijauan segar. Penambahan 2 sampai 3 kali (200.000 – 300.000) lebih menguntungkan, tetapi penambahan hingga 1.000.000 (106) CFU gram-1 tidak lagi menguntungkan (Kung 2001).
Bakteri bukan penghasil asam laktat (non-BAL) juga dapat digunakan sebagai inokulan, contohnya Propionibacteria. Bakteri ini dapat mengubah asam laktat dan glukosa menjadi asam asetat dan propionat yang berfungsi sebagai antifungi. Inokulasi P. shermanii dapat mencegah pertumbuhan jamur pada silase jagung berkadar air tinggi jika pH lebih besar dari 4.5 (Florez-Galaraza dkk. 1985) dan meningkatkan stabilitas aerobik (Bolsen dkk. 1996).