PRINSIP DASAR PEMBUATAN SILASE
b. Enzim
Enzim yang ditambahkan ke dalam silase dapat mendegradasi sebagian serat menjadi karbohidrat mudah larut (WSC) yang digunakan oleh BAL karena BAL tidak dapat menggunakan serat sebagai sumber energi untuk membentuk asam laktat. Kompleks enzim selulase dan hemiselulase merupakan enzim yang sering dicampurkan dengan mikroorganime sebagai inokulan silase.
c. Inhibitor Fermentasi.
Aditif yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroba biasanya digunakan dalam pembuatan silase dimana kondisi ideal pembauatn silase tidak tercapai, misalnya kadar air yang tidak mungkin untuk diturunkan karena kondisi iklim atau kandungan WSC yang rerndah. Proses pengawetan terjadi karena tidak aktifnya bakteri pembusuk akibat tuirunnya pH secara drastis. Beberapa aditif yang bersifat menghambat adalah asam format, asam propionat, asam klorida dan asam sulfat. Asam propionat mempunyai aktivitas sebagai antimikotik yang efektik mnegurangi yeast dan jamur yang bertanggung jawab terhadap kerusakan aerobik silase.
d. Substrat.
Penambahan substrat sebagai sumber WSC adalah hal yang biasa dilakukan disamping inokulasi bakteri. Penambahan sumber WSC akan membantu mempercepat tercapainya kondisi asam karena bakteri dapat dengan mudah memanfaatkan WSC untuk menghasilkan asam laktat. Sisi positif lain penambahan aditif WSC dapat mengurangi kehilangan bahan kering silase karena akibat perubahan WSC bahan menjadi asam laktat. Molases, glukosa, sukrosa, dan bahan-bahan lain yang mempunyai WSC tinggi dapat dijadikan sebagai aditif dalam proses fermentasi.
PENUTUP
Kualitas silase yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh kandungan oksigen dalam bahan dan silo. Oksigen menyebabkan kehilangan bahan kering, peningkatan suhu dan menurunkan kualitas silase yang dihasilkan. Kadar air optimum untuk menghasilkan silase yang baik sekitar 60-65%.
Kualitas silase juga sangat ditentukan oleh bahan tambahan (aditif) seperti inokulan bakteri, enzim, bahan inhibitor fermentasi dan substrat. Penambahan bakteri dan substrat saat pembuatan silase merupakan aditif yang telah biasa dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Bolsen,K.K., D.R. Bonilla, G.L. Huck, M.A. Young, R.A. Hart-Thakur and A.Joyeaux. 1996. Effect of a propionic acid bacterial inoculant on fermentation and aerobic stability of whole-plant corn silage. J. Anim. Sci. 74 (Supl.1):274.
Coblentz, W. 2003. Principles of Silage Making. Unversity of Arkansas. Payetteville. http:/www.uaex.edu, dikunjungi 20 Juni 2004.
Flores-Galaraza, RO., B.A. Glant, C.J. Bern and L.D. van Fossen. 1985. Preservation of High-moisture corn by micribial fermentation. J. Food Protection 48:407-411.
Kung, L. 2001. Solage Fermentation and additives. In: Direct-Fed Microbial, Enzyme and Foragen Additive Compendium. Miller Publisher Co. Minnetonka, MN.
McDonald, P., N. Henderson and S. Heron 1991. The Biochemistry of Silage. Chalcombe Publications. Aberystwyth.
Ohmomo, S., O. Tanaka, H.K. Kitamoto and Y. Cai. 2002. Silage and Microbial Performance, Old Story but New Problems. JARQ 36(2)59-71. http://www. jircas,affrc.go.jp dikunjungi 20 Juni 2004.
Van Soest, P.J. Nutritioanl Ecology of The Ruminant. Cornell University Press. London


