SUPLEMENTASI PAKAN BERSERAT
3.1. Suplementasi dengan sumber nitrogen
Kekurangan beberapa nutrien dalam rumen mempunyai pengaruh utama terhadap ekosistem rumen seperti penurunan pertumbuhan dan aktivitas mikroba. Efektifas degradasi bahan pakan di dalam rumen sangat tergantung pada aktivitas mikroba yang ada. Beberapa faktor dapat mempengaruhi aktivitas mikroba rumen seperti konsentrasi amonia dalam rumen dan mineral.
Kandungan protein bahan pakan mempengaruhi konsentrasi amonia cairan rumen. Kebutuhan amonia untuk mikroba akan terpenuhi pada tingkat kandungan protein bahan pakan 7%. Suplementasi protein akan memberikan hasil yang positif jika ternak mendapat bahan pakan dengan kandungan protein di bawah 6.25%. Suplementasi protein ditujukan untuk meningkatkan rumen degradable protein (RDP), protien mikroba (microbial protein) atau protein lolos degradasi (by-pass protein).
Penurunan konsentrasi amonia dalam rumen dapat dilihat dari penurunan konsumsi pakan akibat menurunnya proses perombakan komponen pakan oleh mikroba. Konsentrasi amonia untuk degradasi optimum pakan berserat harus di atas 200 mg L-1 cairan rumen.
Penggunakan sumber-sumber nitrogen yang mudah difermentasi (fermentable nitrogen) seperti urea dan amonia pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan konsentrasi amonia cairan rumen. Kadar amonia minimum dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan karbohidrat mudah terfermentasi (fermentable carbohydrate) untuk pertumbuhan mikroba direkomendasikan sebesar 50 mg L-1, akan tetapi jumlah ini terlalu rendah untuk pencernaan optimum pakan berserat.
Pemberian urea secara langsung kepada ternak sangat tidak mungkin dilakukan. Urea sebagai sumber nitrogen dapat diberikan dalam air minum, dalam bentuk cair yang telah dicampur dengan molases atau dalam bentuk urea molasses block.
Pemberian urea dalam air minum hanya dapat dilakukan jika konsentrasi amonia cairan rumen sangat rendah (á50 mg/liter) dan amonia diasumsikan sebagai faktor pembatas utama penurunan pertumbuhan dan aktivitas mikroba. Kelemahan pemberian urea melalui air minum adalah kemungkinan keracunan akibat ketidakmampuan mikroba memanfaatkan amonia untuk pertumbuhan. Pemanfaatan amonia sangat tergantung pada ketersediaan faktor lain seperti kerangka karbon yang berasal dari karbohidrat mudah terfermentasi.
Campuran urea dan molases dalam bentuk cair merupakan sumber karbohidrat dan nitrogen mudah terfermentasi serta mineral. Molases menjadi sumber karbohidrat dan mineral karena mempunyai kandungan sulfur yang tinggi. Kendala penggunaan campuran ini sebagai suplemen adalah dalam hal penanganan, penyimpanan, transportasi dan pemberian kepada ternak.
Pemberian campuran urea dan molase dalam bentuk padat (block) telah sering dilakukan. Campuran urea dan molases dalam bentuk padat (urea molasses block = UMB) atau dengan penambahan komponen lain (urea molasses multinutrient block = UMMB) mampu menyediakan kebutuhan mikroba rumen. Campuran ini dapat disusun dari berbagai komponen tergantung pada ketersediaan, nilai nutrisi, ketersediaan peralatan dalam pembuatan dan penggunaan dan pengaruhnya terhadap kualitas campuran.
Urea yang bertindak sebagai sumber nitrogen mudah terfermentasi merupakan komponen penting dalam campuran ini. Molases berperan sebagai penyedia substrat mudah terfermentasi dan berbagai mineral (kecuali fosfor). Rasa dan bau molases yang enak mampu meningkatkan palatabilitas dan konsumsi pakan. Dedak padi merupakan komponen yang sering digunakan sebagai pelengkap komponen campuran. Dedak mampu menyediakan beberapa unsur nutrisi seperti lemak, protein, fosfor dan berperan sebagai penyerap air pada molases sehingga memberikan bentuk campuran yang lebih kompak. Garam merupakan sumber mineral yang sering digunakan dalam campuran karena harganya yang tidak mahal.


