Loading Now
×

EVALUASI PAKAN SECARA IN SACCO

EVALUASI PAKAN SECARA IN SACCO

PENDAHULUAN

Tipe evaluasi pakan in sacco dengan kantong nylon merupakan kombinasi pengukuran nilai nutrisi pakan di lapang dan di laboratorium. Metode ini telah digunakan secara intensif dalam mengestimasi degradasi bahan pakan ternak ruminansia, terutama degradasi protein di dalam rumen. Disamping itu dapat juga untuk mengestimasi kecernaan serat kasar dan bahan kering, kehilangan nitrogen bahan makanan dan persediaan protein.

Prinsip metode in sacco adalah suatu pakan dimasukkan ke dalam kantong kemudian diinkubasikan di dalam rumen ternak yang berfistula. Dalam masa inkubasi tertentu, pakan di dalam kantong akan mengalami degradasi karena fermentasi mikroba rumen dan partikel yang mudah larut dalam rumen. Sisa atau residu yang masih terdapat dalam kantong merupakan pakan yang tidak terdegradasi. Dengan metode ini ternyata laju dan tingkat degradasi suatu pakan di dalam rumen dapat diestimasi dengan cepat tanpa memerlukan banyak prosedur yang rumit. Nilai-nilai fraksi pakan yang terlarut, fraksi tidak larut tapi potensial untuk terdegradasi dan laju degradasi zat makanan merupakan parameter utama yang akan diukur dengan teknik in sacco ini. Pengukuran nilai nutrisi melalui teknik in sacco ini tidak hanya dilakukan melalui rumen, kini telah dikembangkan evaluasi kecernaan bahan pakan secara lebih menyeluruh. Evaluasi tersebut juga dilakukan di intestinum dengan metode in sacco mobil (mobile nylon bag technique). Prinsip metode ini adalah memasukkan residu pakan setelah inkubasi dalam rumen ke dalam intestinum melalui fistula intestinum dan diambil melalui feses.

Keunggulan metode in sacco (rumen dan intestinum) adalah dapat menggambarkan kinetik degradasi (kd), memperhitungkan gerakan laju pakan keluar rumen (kp) dan mempunyai korelasi yang erat dengan metode in vivo.

EVALUASI PROTEIN PAKAN

Protein merupakan zat makanan yang sangat dibutuhkan oleh ternak termasuk ternak ruminansia. Metode yang digunakan secara luas dalam menghitung kebutuhan protein pada ternak ialah melalui metode protein kasar dengan pendekatan kecernaannya. Adanya aktivitas mikroba dalam rumen menyebabkan pendekatan tersebut kurang tepat untuk ternak ruminansia, karena tidak dapat menggambarkan secara lengkap penggunaan protein di dalam tubuh ternak dan kondisi yang sesungguhnya di dalam rumen. Pemberian pakan pada ternak ruminansia terdapat dua hal yang perlu mendapat perhatian yaitu kebutuhan nutrisi untuk perkembangan mikroba rumen dan kebutuhan untuk ternak itu sendiri yang banyak tergantung pada produk-produk hasil fermentasi dan zat makanan dari pakan yang lolos degradasi di dalam rumen.

Dewasa ini telah dikembangkan suatu metode dalam menentukan kebutuhan protein pada ternak ruminansia. Metode ini memisahkan kebutuhan protein untuk mikroba rumen yang berasal dari protein terdegradasi (Rumen Degradable Protein = RDP) dan kebutuhan protein untuk ternak itu sendiri yang berasal dari protein yang lolos degradasi di dalam rumen (Undegraded Dietary Protein = UDP) dan protein mikroba.

RDP merupakan bagian dari protein kasar pakan yang didegradasi oleh mikroba rumen menjadi peptida dan amonia dan sebagain besar diantaranya akan dikonversi menjadi protein kasar mikroba. Besarnya proporsi protein pakan yang terdegradasi di dalam rumen dapat ditentukan dengan metode in sacco (Ørskov dan McDonald, 1979). Kelebihan metode tersebut diantaranya lebih sederhana, dapat menghitung kecepatan degradasi dan sampel yang diinkubasikan dapat dalam jumlah banyak. Degradasi protein pakan di dalam rumen sangat bervariasi menurut asal dan jenis pakan, umur pemotongan, perlakuan kimia atau fisik.

UDP adalah protein pakan yang lolos dari aksi mikroba di dalam rumen dan masuk ke dalam usus halus dan akan dicerna secara enzimatis. Nitrogen (N) yang digunakan mikroba rumen adalah nitrogen hasil perombakan protein pakan dan hasil siklus urea. Estimasi jumlah N terdegradasi yang dibutuhkan oleh ternak diperkirakan sama dengan N mikroba yang dihasilkan di dalam rumen yang besarnya proporsional dengan jumlah energi yang tersedia dari hasil fermentasi yaitu sebesar 1,25 g N/MJ ME. Untuk estimasi energi yang tersedia dalam mendukung sintesis protein tersebut dapat digunakan konsumsi bahan organik yang terfermentasi di dalam rumen; Kebutuhan RDN (g/hari) =

Pages: 1 2 3 4 5