KERUSAKAN BAHAN PAKAN SELAMA PENYIMPANAN
4.5. Penggunaan Bahan Terkontaminasi
Bahan pakan yang telah mengalami kontaminasi oleh mikotoksin masih dapat dimanfaatkan. Bahan dapat digunakan langsung atau melalui perlakukan terlebih dahulu untuk mengurangi konsentrasi mikotoksin dalam bahan. Ada bebrapa metode yang dapat dilakukan untuk menghilangkan toksin (detoksifikasi) dapat dilakukan baik secara fisik, mikrobiologi maupun kimia, antara lain:
- Pemisahan bijian yang terkontaminasi. Kandungan mikotoksin dalam bahan akan dapat dikurangi konsentrasinya dengan pengolahan. Alat penyortir warna otomatis dapat memisahkan butiran yang memiliki penampilan yang tak normal.
- Pembersihan: pemisahan dengan ayakan yang halus dapat mengurangi fumonisin dan mikotoksin lain. Cara ini cukup sederhana tapi tidak sempurna.
- Segregasi and penyortiran: Uji “black light” untuk aflatoksin. Cara ini sederhana tetapi menyesatkan teknologi penyortir warna – tidak sesuai untuk jagung tapi memberi harapan.
- Pemisahan berdasarkan kerapatan dan pencucian: untuk fumonisin, DON, ZEN – metode ini tidak spesifik dan kurang sempurna tetapi sesuai untuk penggilingan basah dan pengolahan jagung dengan alkali.
- Amoniasi: detoksifikasi biji-bijian dengan amonia merupakan suatu alternatif yang dapat ditempuh. Amonia (digunakan dalam bentuk gas, anhydrous ammonia, atau bentuk cair, aqua-ammonia) bereaksi dengan molekul aflatoksin dan menghancurkan sifat racunnya. Perlakuan yang sempurna dapat menurunkan konsentrasi aflatoksin hingga 95%.
- Campuran probiotik: Bakteri Lactobacillus dan Propionibacterium mampu menurunkan ketersediaan (bioavailabilitas) aflatoksin bahan pakan.
Jumlah penggunaan bahan pakan terkontaminasi dalam ransum sangat tergantung pada tingkat kontaminasi yang terjadi dan batas toleransi ternak (Tabel 6) terhadap mikotoksin.
Tabel 6. Batas Toleransi Beberapa Mikotoksin
| MIKOTOKSIN | TOLERANSI | TERNAK |
| Aflatoksin | 0.5 ppb | Sapi perah laktasi |
| 20 ppb | Sapi perah | |
| 100 ppb | Sapi, babi unggas | |
| 200 ppb | Babi penggemukan | |
| 300 ppb | Sapi penggemukan | |
| Fumonisin | 5 ppm | Kuda |
| 10 ppm | Babi | |
| 50 ppm | Sapi | |
| Vomitoxin | 5 ppm | Babi |
| 10 ppm | Sapi, unggas |
Pemakaian bahan terkontaminasi dalam ransum dapat ditentukan dengan persamaan :
F =100 x (C – L)/(H – L)
dimana:
F: Jumlah bahan terkontaminan dalam pakan (%)
C: konsentrasi mikotoksin yang diinginkan (ppm)
H:Konsentrasi mikotoksin dalam bahan terkontaminasi (ppm)
L: Konsentrasi mikotoksin dalam bahan tak terkontaminasi (ppm)
Suatu Teladan: Jagung telah terkontaminasi dengan aflatoksin 300 ppb dan akan dicampur dengan bahan pakan yang mengandung 10 ppb untuk menghasilkan campuran pakan untuk ternak unggas. Tentukan persentasi maksimal jagung dalam ransum agar konsentrasi aflatoksin masih dalam batas tolerasi untuk ternak unggas.
Pemecahan:
H: 300 ppb
L: 10 ppb
C: 100 ppb
F = 100 x (100 – 10)/(300 – 10)
= 100 x (90/290) = 31%
Jadi jagung yang dapat digunakan paling tinggi sebesar 31 % dalam ransum.
U N D U H: | PENYIMPANAN2015.pdf (418 downloads ) |