Loading Now
×

KERUSAKAN BAHAN PAKAN SELAMA PENYIMPANAN

KERUSAKAN BAHAN PAKAN SELAMA PENYIMPANAN

B. Genus Penicillium

Genus Penicillium mempunyai hampir 150 spesies, 100 spesies diantaranya dikenal sebagai penghasil racun. Sembilan mikotoksin yang dihasilkan oleh 15 spesies Penicillium berpotensi mengganggu kesehatan manusia adalah citreoviridin, citrinin, cyclopiazonic acid, ochratoxin A, patulin, penitrem A, PR toxin, roquefortine C dan secalonic acid D.

Toksin yang dihasilkan spesies Penicillium dapat dibedakan dalam 2 kelompok yaitu toksin yang mempengaruhi fungsi hati dan ginjal dan toksin yang berpengaruh secara neurotoksik.

C. Genus Fusarium

Spesies dari kapang Fusarium sering dijuampai sebagai kontaminan pada jagung, kedelai, sorgum dan berbagai produk yang dibuat dari biji-bijian tersebut.

Spesies Fusarium yang berhubungan dengan kontaminasi biji-bijian adalah F. graminearum, F. moniliforme (= F. verticillioides), F. culmorum, F. sprotrichiodes dan F. poae. Spesies ini menghasilkan berbagai jenis mikotoksin yaitu trichothecenes, zearalenone (ZEN) dan fumonisin. Trichothecenes dibagi menjadi dua yaitu tipe A dan Tipe B. Tipe A terdiri dari T-2 toxin, HT-2 toxin, neosolaniol dan diacetoxyscirpenol (DAS). Tipe B terdiri dari deoxynivalenol (DON = vomitoxin), nivalenol dan fusarenon-X.

Fumonisin dihasilkan oleh F. moniliforme atau F. verticillioides. Kapang menginfeksi akar, daun, batang dan biji jagung. Fumonisin dibedakan menjadi fumonisin B1, B2 dan B3.

Zearalenone diproduksi oleh F. graminearum (Gibberell zeae) sebelum jagung atau gandum dipanen. Mikotoksin ZEN dan DON sering dihasilkan secara bersamaan. ZEN berhenti diproduksi jika kadar air jagung diturunkan hingga di bawah 15%.

DON sering dikenal dengan vomitoxin dihasilkan oleh F. graminearum. Suhu optimum produksi DON berkisar antara 21-29oC dengan kadar air di atas 20%.

4.4. Pengendalian Kontaminasi Mikroba

Bahan pakan yang diproduksi dan disimpan dengan cara yang kurang baik dan tidak memenuhi persyaratan akan mudah mengalami kerusakan. Kerusakan terjadi karena adanya mikroorganisme yang memakan zat makanan untuk mempertahankan hidup, pertumbuhan dan perkembangbiakan.

Peningkatan populasi mikroorganisme menyebabkan kehilangan berat bahan pakan yang makin besar dan produksi panas yang terus meningkat. Peningkatan suhu menyebabkan kerusakan zat makanan.

Faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban dan kondisi fisik butiran sangat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Kapang dapat tumbuh dan berkembang pada suhu di atas 13oC dengan kadar air di atas 14% dan kelembaban 80-85%.

Pengendalian pertumbuhan kapang dan produksi mikotoksin dapat dilakukan dengan mengendalikan faktor pemacu seperti suhu, kadar air dan hama yang menyebabkan kerusakan.

Kontaminasi bahan pakan yang terjadi sebelum panen berhubungan cekaman panas yang diterima tanaman dan kerusakan pada biji. Kontaminasi toksin pada bahan pakan dapat diminimalisasi dengan:

  1. mengurangi stress pada tanaman. Tindakan mengurangi stres pada tanaman dapat dilakukan dengan mengontrol perkembangan serangga, gulma dan penyakit.
  2. pemanenan lebih awal dan pengeringan segera. Pemanenan dilakukan saat kadar air di atas 20% dan segera dikeringkan selama 24-48 jam hingga kadar air mencapai 14%.
  3. menghindari kerusakan pada biji. Biji yang rusak lebih mudah diserang oleh kapang baik di lapangan maupun saat penyimpanan.
  4. menyimpan bahan baku pada kadar air di bawah 12%. Kadar air maksimum penyimpanan bahan baku adalah 14%. Kadar air bahan pakan sebesar 12% merupakan kondisi ideal untuk disimpan karena pertumbuhan dan produksi mikotoksin tidak terjadi.
  5. menjaga kebersihan tempat penyimpanan. Kapang Aspergillus dapat bertahan hidup pada residu yang tertinggal dalam area penyimpanan.

DAFTAR ISI

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13