EVALUASI PAKAN SECARA IN SACCO
ME x [1/(0,82 x 19)] x KBOR x Nyield
ME : kebutuhan Energi Termetabolis (MJ/hari)
KBOR : Konsumsi Bahan Organik yang terfermentasi dalam Rumen =0.65
Nyield: Hasil N Mikroba (g/kg DOMR) = 30
0.82 x 19 : Faktor konversi dari DE ke mE
Besarnya N asam amino yang mampu disediakan oleh N mikroba untuk ternak adalah 0,53ME dengan asumsi bahwa 80 persen dari N mikroba berupa asam amino yang mempunyai kecernaan semu 70 persen dan efisiensi penggunaannya sebesar 75. Kebutuhan RDN merupakan kebutuhan minimum untuk ternak. Jika kebutuhan ternak tidak terpenuhi maka kekurangannya akan dipenuhi dari nitrogen pakan yang lolos degradasi (UDN) yang besarnya 1.91TN – 1.00ME, dimana TN (Tissue Nitrogen) merupakan kebutuhan N jaringan untuk hidup pokok, produksi dan reproduksi dan ME adalah energi metabolis.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIVITAS KECERNAAN In Sacco
Karakteristik Kantong
Jenis kantong yang dapat digunakan sebagai kantong nylon buatan (artificial fibre bag) diantaranya dacron bag, nylon bag dan rumen bag (Ørskov, 1992). Prinsipnya kantong harus terbuat dari bahan yang tidak tercerna di dalam rumen. Kantong yang paling umum digunakan adalah kantong nylon.
Kantong dapat dibuat dari nylon atau bahan serat lainnya dengan ukuran pori-pori antara 20 – 40 mikron (Preston, 1986), bahkan ada yang hingga 46 mikron (Widyobroto, 1996). Namun Rodriguez (1968) melaporkan bahwa jumlah lubang tiap cm2 pada kantong nylon ternyata tidak memberikan perbedaan terhadap laju degradasi. Kantong nylon dengan 1680, 2303 dan 2555 lubang/cm2 ternyata memberikan nilai yang sama untuk kehilangan bahan kering dari kantong nylon (Ørskov, 1992). Ukuran lubang pori-pori kantong sebesar 20 mikron dan 30 mikron memberikan sedikit kehilangan bahan kering dari pada lubang pori-pori sebesar 53 mikron.
Pemilihan ukuran pori kantong sangat terkait dengan upaya meminimalkan hilangnya partikel yang kecil dari kantong namun mampu menjamin mikroba termasuk protozoa dapat masuk ke dalam kantong tanpa hambatan dan gas yang dihasilkan selama fermentasi dapat keluar dari kantong. Jika gas tidak dapat keluar maka kemungkinannya kantong akan mengapung pada bagian atas partikel padat yang mengakibatkan bias pada hasil yang diperoleh.
Ukuran kantong sangat beragam tergantung jumlah sampel dan jenis ternak. Ukuran kantong nylon untuk teknik in sacco dalam rumen dimensi bagian dalamnya sekitar 6 x 11 cm sedangkan untuk intestinum lebih kecil yaitu 3.8 x 4.5 cm. Beberapa peneliti menyebutkan berbagai ukuran yang berbeda-beda, namun sebagai pedoman pemilihan ukuran kantong dapat digunakan rasio lebar dan panjang kantong yang berkisar antara 1 : 1 (bujursangkar) hingga 1 : 2.5 (Osuji, Nsahlai dan Khalili, 1993).
Ukuran Sampel
Ukuran sampel harus disesuaikan dengan ukuran kantong dan berhubungan erat dengan total luas permukaan kantong yang dimaksudkan agar sampel pakan dapat bergerak bebas di dalam kantong. Meskipun bukan suatu konsensus, jumlah 15 mg sampel per cm2 kantong (luas seluruhnya) sangat disarankan. Sejalan dengan itu disarankan jumlah sampel sekitar 3 – 5 gram dari bahan kering. Kantong dengan ukuran lebih kecil, jumlah sampelnya dapat lebih sedikit namun tidak boleh kecil dari 2 gram. Namun Ørskov (1992) mengemuka-kan bahwa berat sampel yang dimasukkan ke dalam kantong dapat berbeda untuk tiap bahan yaitu 2 gram untuk jerami, 3 gram untuk hay dan rumput kering, 5 gram untuk konsentrat dan 10 – 15 gram untuk hijauan segar.
Ukuran partikel sampel yang dimasukkan ke dalam kantong nylon tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap kehilangan bahan kering selama 72 jam masa inkubasi (Rodriquez, 1968). Seperti yang telah diteliti Kempton dan Hiscox bahwa laju degradasi hijauan lucerne (Medicago sativa) dipotong-potong sepanjang 0.5-1 cm atau tanah dengan ukuran 40 mm tidak menunjukan perbedaan yang nyata terhadap kehilangan bahan kering setelah 13.5 jam diinkubasikan dalam rumen. Tetapi Ørskov (1992) menyatakan bahwa sebelum dimasukkan ke dalam kantong sampel harus digiling dulu sehingga sampel mempunyai ukuran kurang lebih 2.5 – 3 mm.

